Senin, 01 September 2014

Penilaian Autentik - Bagaimana Sih Autentik Itu?

Penilaian Autentik, ya, Penilaian Autentik sebagaimana yang dibahas dalam situs Pembelajaran Guru Sekolah Dasar merupakan penilaian yang kini sedang booming di kalangan para guru. Penilaian yang diusung oleh Kurikulum 2013 ini meminta guru untuk menerapkannya dalam pembelajaran.

Para guru tentunya diminta untuk memahami dan melaksanakan penilaian ini. Masalahnya sekerang adalah sudah jelaskan kita dengan konsep penilaian autentik ini? Tentuk jawaban kita beragam. Ketika bapak dan ibu guru membaca tulisan ini tentu ada yang menjawab "Saya sudah paham kok" dan tentunya juga tidak sedikit yang menjawab "Saya belum paham pak... Ini saya lagi nyari-nyari informasinya di blog ini" hehehe...

Penilaian Autentik


Ya, bapak dan ibu guru, anda beruntung karena telah mampir ke blog ini. Dalam blog ini kami bahas materi mengenai penilaian autentik. Kita mulai diri dari apa sih penilaian autentik itu?

Penilaian autentik adalah penilaian yang berpusat pada keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri siswa. Siswa selama pembelajaran berlangsung dinilai oleh guru mulai dari aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana: karena siswa tidak hanya mengandalkan salah satunya saja dari ketiga aspek tersebut dalam belajar. Jika siswa harus mengandalkan ketiga-tiga aspek tersebut, maka secara otomatis diperlukan penilaian untuk mengukur kemajuannya, benar bukan?

Saya berikan contoh seperti ini. Ketika kita ingin membelajarkan muatan pembelajaran (dalam bahasanya Kurikulum 2013 mata pelajaran berganti menjadi muatan pembelajaran) Bahasa Indonesia yang berupa menceritakan kembali isi bacaan, maka tentu saja kegiatan yang muncul dalam pembelaran kita adalah siswa diminta secara lisan bercerita. Dari sini kita sudah tahu kalau ini adalah praktek membaca. Jika kita sudah tahu kalau ini praktek membaca tentu saja bukan hanya aspek pengetahuan yang muncul bukan? Di situ akan muncul yang namanya aspek keterampilan, yaitu keterampilan dalam menggunakan bahasa untuk bercerita. 

Untuk mengukur seberapa mampu siswa menceritakan kembali cerita yang telah ia baca, maka digunakannlah penilaian yang mengukur aspek pengetahuan dan keterampilannya. Darimana kita bisa menilai pengetahuannya? Melalui apa? Mudah kok, ukur saja kelengkapan ceritanya. Kalau sudah lengkap dan mendekati sempurna artinya pengetahuannya sudah oke. Kalu keterampilannya? Apa yang diukur? Untuk keterampilan lebih mudah lagi. Siswa selama becerita tentu akan kelihatan bagaimana penggunaan lafalnya, intonasi dalam berceritanya, penggunaan bahasa yang bakunya, dan sebagainya. Nah, itulah yang mesti dinilai sebagai penilaian autentik aspek keterampilan.

Jika aspek pengetahuan dan keterampilan sudah bisa diukur, bagaimana kita mengukur sikapnya? Ini mudah saja, bapak, ibu... Sikap sudah terintegrasi dengan pembelajaran. Mulai dari siswa masuk kelas sampai siswa meninggalkan kelas, sikap bisa diamati. Contoh sikap yang perlu diamati adalah bagaimana sopan santunnya dalam belajar, bagaimana perilaku bersyukurnya, bagaimana rasa percaya dirinya, dan sebagainya.

Demikianlah sekilas bagaimana penilaian autentik itu dijalankan, bapak ibu guru. Jika masih perlu penjelasan yang lebih mendalam silahkan ikuti link berwarna biru di atas. Atau jika masih belum puas bisa mengikuti pranala wikipedia di link ini : https://id.wikipedia.org/wiki/Penilaian_Autentik.

Video penjelasan penilaian autentik adalah sebagai berikut.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar